26 February 2025

Pegadaian Dukung Pemkot Bima dan FORSEPSI Gelar Aksi Lingkungan dalam HPSN 2025

Bima, 26 Februari 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, PT Pegadaian mendukung Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (FORSEPSI), bank sampah binaan PT Pegadaian, untuk bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima, menggelar kegiatan Gerakan Biopori Nasional dan Aksi Bersih Sungai. Acara turut hadiri Rudy Kristijanto, Kepala Departemen Area Pulau Sumbawa PT Pegadaian, beserta jajaran pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dan para relawan.

Peringatan HPSN 2025 di Kota Bima menghadirkan solusi konkret dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Salah satu program utama dalam kegiatan ini adalah pemasangan perangkap sampah (trash barrier) di Sungai Lewi Jambu, yang diharapkan mampu menahan hingga 2 ton sampah plastik per bulan, sehingga dapat mencegah pencemaran laut.

Selain itu, acara ini juga menandai peluncuran Program Organik Nasional, yang ditandai dengan pembuatan 1.000 lubang biopori di seluruh Kantor Cabang PT Pegadaian se-Indonesia. Lubang biopori ini bertujuan untuk mengurangi genangan air, meningkatkan daya serap tanah, serta mengelola sampah organik secara lebih ramah lingkungan.

Acara dibuka secara resmi oleh Asisten 1 Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Bima, Drs. H. Alwi Yasin, M.Ap, yang mewakili Walikota Bima. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya partisipasi semua pihak dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan praktik pengelolaan sampah dari sumbernya. “Kolaborasi seperti ini harus terus diperluas agar memberikan dampak berkelanjutan bagi Kota Bima dan daerah lainnya,” ujar Alwi.

Sebagai bentuk dukungan terhadap Permen LHK No. 14 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular, acara ini juga diisi dengan penandatanganan komitmen bersama antara PT Pegadaian, FORSEPSI, dan Pemerintah Kota Bima untuk memperkuat sinergi dalam pengelolaan sampah yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

Rully Yusuf selaku Kepala Divisi ESG PT Pegadaian menyatakan harapannya, “Keberlanjutan lingkungan memerlukan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak. Melalui pendekatan Pentahelix, kami berharap sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media dapat semakin diperkuat untuk menciptakan dampak yang lebih luas dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat secara berkelanjutan,”

Sebagai bagian dari komitmen dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), PT Pegadaian aktif dalam mendorong inisiatif keberlanjutan melalui berbagai program berbasis lingkungan. Salah satu bentuk nyata kontribusinya adalah pembinaan 425 bank sampah serta edukasi pemilahan sampah anorganik dan pembuatan biopori di lingkungan kantor cabang dan unit kerja Pegadaian di seluruh Indonesia.

Ketua Umum FORSEPSI, Mina Dewi, mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin. “Dengan adanya kolaborasi ini, kami meluncurkan Program Organik Nasional dan Gerakan Bersih Sungai. Harapannya, melalui momentum HPSN ini, program-program FORSEPSI dapat semakin terintegrasi dengan pemerintah daerah dalam pengembangan bank sampah dan edukasi lingkungan. Kami juga berharap Kota Bima bisa menjadi role model dalam pengelolaan sampah dari sumbernya, sehingga bisa menginspirasi daerah lain di Indonesia,” ujar Mina.

Melalui bank sampah PT Pegadaian menegaskan komitmennya untuk terus menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan bersih. Ke depan, program ini akan diperluas ke lebih banyak daerah dengan melibatkan berbagai mitra strategis, guna menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat dan ekosistem.

 

Tentang Pegadaian

PT Pegadaian merupakan lembaga pembiayaan sosial yang berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat melalui layanan keuangan inklusif. Dengan berbagai inovasi layanan dan program sosial, PT Pegadaian terus berupaya menciptakan dampak positif bagi komunitas dan masyarakat secara luas.

 


Kegiatan Lainnya

FORSEPSI juga mengadakan berbagai kegiatan tambahan yang inovatif dan partisipatif.

Membangun Kemitraan Bank Sampah yang Berdampak dan Berkelanjutan: Pembelajaran dari Praktisi

Transformasi bank sampah menuju lembaga pengelola sampah yang profesional tidak dapat dilepaskan dari kemampuan membangun kemitraan yang kuat dan berkelanjutan. Hal ini menjadi benang merah dalam kegiatan Ngobrol Pintar Soal Sampah Bareng FORSEPSI yang diselenggarakan pada 25 April 2026 oleh Bidang Pelatihan FORSEPSI. Kegiatan ini menghadirkan Yudha Tryanto dari Jambi dan Rian Hidayat dari Jawa Barat yang telah lebih dahulu mengembangkan model kemitraan dengan beragam pihak, mulai dari pemerintah daerah, institusi pendidikan, sektor swasta, hingga fasilitas layanan publik. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa pengelolaan bank sampah saat ini tidak lagi cukup diposisikan sebagai kegiatan berbasis komunitas semata, melainkan perlu diarahkan menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Salah satu poin penting yang mengemuka adalah perlunya pemahaman yang utuh terhadap peran bank sampah sebagaimana diatur dalam kebijakan nasional. Bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah terpilah, tetapi juga sebagai sarana edukasi, perubahan perilaku masyarakat, serta implementasi ekonomi sirkular. Dengan demikian, bank sampah memiliki legitimasi untuk menjalin kemitraan lintas sektor dalam rangka memperluas dampak pengelolaan sampah. Dalam praktiknya, keberhasilan membangun kemitraan tidak selalu ditentukan oleh ketersediaan fasilitas fisik. Justru, kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci yang menentukan. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa banyak inisiatif bank sampah tidak berkembang optimal karena belum didukung oleh tim yang solid, pembagian peran yang jelas, serta komitmen pelayanan yang konsisten. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pengelola menjadi fondasi utama sebelum memperluas kerja sama. Kemitraan yang efektif umumnya diawali dari relasi yang terbangun secara bertahap. Bank sampah dapat memulai dari lingkungan terdekat, seperti sekolah, kelompok masyarakat, pelaku usaha lokal, hingga fasilitas kesehatan. Dalam konteks yang lebih luas, peluang kerja sama juga terbuka dengan dinas terkait, program sosial, serta sektor swasta yang memiliki tanggung jawab terhadap pengelolaan sampah yang dihasilkannya. Dalam hal ini, prinsip bahwa penghasil sampah turut bertanggung jawab terhadap biaya pengelolaannya menjadi bagian penting dalam membangun model kemitraan yang adil dan berkelanjutan. Diskusi juga menekankan pentingnya kesiapan internal sebelum menjalin kerja sama. Aspek seperti kapasitas penampungan, kemampuan operasional tim, pemahaman terhadap kebutuhan mitra, serta perhitungan biaya yang transparan perlu diperhatikan secara cermat. Selain itu, penerapan standar operasional prosedur, sistem pencatatan, dokumentasi kegiatan, serta kesepakatan kerja sama yang jelas menjadi elemen penting dalam meningkatkan profesionalitas bank sampah. Pembelajaran dari para narasumber menunjukkan bahwa pengembangan bank sampah tidak harus dimulai dalam skala besar. Pendekatan bertahap dengan mengedepankan konsistensi layanan justru menjadi kunci dalam membangun kepercayaan mitra. Dalam jangka panjang, kepercayaan inilah yang akan membuka peluang kerja sama yang lebih luas dan berdampak. Melalui kegiatan ini, FORSEPSI kembali menegaskan perannya sebagai ruang kolaborasi dan pembelajaran bagi pengelola bank sampah di seluruh Indonesia. FORSEPSI tidak hanya menjadi wadah berbagi pengalaman, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung antarpraktik baik yang berkembang di berbagai daerah. Dengan memperkuat jejaring dan mendorong pertukaran pengetahuan, FORSEPSI berkontribusi dalam mempercepat transformasi bank sampah menuju sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi. Pada akhirnya, penguatan kemitraan menjadi salah satu kunci utama dalam mendorong keberlanjutan pengelolaan sampah. Bank sampah yang mampu membangun relasi, menjaga kepercayaan, dan menghadirkan layanan yang konsisten akan memiliki posisi strategis dalam ekosistem pengelolaan sampah di tingkat lokal maupun nasional.

Silaturahmi yang Menguatkan: Belajar Kolaborasi Pengelolaan Sampah bersama FORSEPSI dan Pegadaian

Silaturahmi selalu punya cara sederhana namun kuat untuk menyatukan energi. Itulah yang terasa dalam kegiatan Halalbihalal & Silaturahmi FORSEPSI bersama PT Pegadaian yang diselenggarakan pada Sabtu, 28 Maret 2026 secara daring. Sebanyak 127 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam ruang virtual yang hangat. Bukan sekadar temu kangen pasca-Ramadhan, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kolaborasi antara bank sampah dan Pegadaian sebagai mitra strategis. Silaturahmi yang Tidak Sekadar Seremonial Dalam sambutannya, Bapak Jainudin selaku Kepala Divisi ESG PT Pegadaian menegaskan bahwa hubungan antara Pegadaian dan FORSEPSI bukan sekadar hubungan program, tetapi kemitraan yang harus terus dirawat. Hubungan harmonis antara bank sampah dengan Pegadaian Cabang menjadi kunci keberhasilan di lapangan. Di beberapa daerah, kolaborasi ini sudah berjalan sangat baik—ditandai dengan dukungan nyata dari cabang Pegadaian, mulai dari fasilitasi kegiatan, komunikasi yang intens, hingga kehadiran langsung dalam kegiatan edukasi masyarakat. Namun di sisi lain, diskusi juga secara jujur mengangkat bahwa masih ada wilayah yang perlu memperkuat komunikasi dan membangun kepercayaan dengan cabang Pegadaian setempat. Di sinilah pentingnya peran pengurus bank sampah untuk aktif menjalin hubungan, bukan hanya menunggu. Dukungan Nyata: Dari Tenda hingga Kolaborasi Program Menariknya, dalam sesi diskusi terungkap berbagai bentuk dukungan konkret yang selama ini sudah diberikan. Mulai dari bantuan sederhana seperti peminjaman tenda untuk kegiatan edukasi, hingga peluang kolaborasi dengan pihak lain seperti dukungan kegiatan bersama mitra perusahaan. Hal-hal kecil seperti ini seringkali menjadi “bahan bakar” penting bagi gerakan di akar rumput. Karena bagi pegiat bank sampah, dukungan operasional sekecil apapun bisa berdampak besar terhadap keberlanjutan kegiatan. Diskusi juga menyinggung peluang kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan brand atau perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Ini membuka ruang bahwa bank sampah tidak hanya bergerak sendiri, tetapi bisa menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas. Penguatan Legalitas dan Kelembagaan Isu lain yang juga cukup banyak dibahas adalah terkait legalitas dan kelembagaan, termasuk pentingnya Surat Keputusan (SK) sebagai dasar pengakuan formal. Legalitas ini bukan hanya soal administrasi, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk: menjalin kerja sama resmi, mengakses dukungan program, hingga membuka peluang pembiayaan. Bank sampah yang memiliki struktur dan legalitas yang jelas akan lebih mudah dipercaya, baik oleh pemerintah, mitra, maupun sektor swasta. Menjaga Semangat di Tengah Tantangan Dalam suasana yang santai namun bermakna, para peserta juga saling berbagi tantangan yang dihadapi di lapangan. Mulai dari dinamika pengurus, keterbatasan fasilitas, hingga tantangan menjaga konsistensi nasabah. Namun satu hal yang terasa kuat: semangat untuk terus bergerak tidak pernah padam. Silaturahmi ini justru menjadi pengingat bahwa setiap bank sampah tidak berjalan sendiri. Ada jaringan besar yang saling mendukung, saling belajar, dan saling menguatkan. Menutup dengan Harapan Bersama Kegiatan ini ditutup dengan pesan sederhana namun kuat: bahwa kolaborasi adalah kunci. Pengelolaan sampah bukan pekerjaan satu pihak. Ia membutuhkan kerja bersama—antara masyarakat, komunitas, pemerintah, dan sektor swasta. FORSEPSI dan Pegadaian telah menunjukkan bahwa kolaborasi itu nyata dan terus bertumbuh. Dari ruang Zoom sederhana, lahir energi besar untuk terus bergerak. Karena pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan hanya tentang sampah—tetapi tentang masa depan lingkungan, ekonomi, dan kehidupan kita bersama.   Bidang Publikasi & Komunikasi FORSEPSI

FORSEPSI Menjadi Narasumber Pengelolaan Sampah di Ibu Kota Nusantara (IKN)

Upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak bisa hanya bertumpu pada infrastruktur. Ia membutuhkan perubahan perilaku, desain sistem yang matang, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Inilah semangat yang terasa kuat dalam kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026. Pada Kamis, 5 Februari 2026, FORSEPSI (Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia) binaan Pegadaian dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi bertajuk "Memilah Sampah, Menabung Emas" yang berlangsung di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kegiatan ini dihadiri oleh bank sampah se-IKN serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang selama ini menjadi simpul penting penggerak masyarakat di tingkat tapak. NGOBRAS: Sampah Jadi Emas, dari Narasi ke Praktik Sesi kedua dilanjutkan dengan talkshow NGOBRAS (Ngobrol Santai) bersama FORSEPSI, Mayora, dan Plasticpay, mengangkat tema "Memilah Sampah Jadi Emas" yang menyasar 1.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) di IKN. Talkshow ini turut dihadiri oleh Deputi Area Kalimantan dan Kantor Wilayah Balikpapan, menandai kuatnya dukungan lintas pemangku kepentingan. Diskusi ini tidak berhenti pada ajakan normatif. Peserta diajak memahami bahwa sampah bernilai ekonomi jika dikelola dengan sistem yang benar---mulai dari pemilahan, pengumpulan, pencatatan, hingga insentif yang jelas dan adil. Skema tabungan emas menjadi contoh konkret bagaimana perilaku ramah lingkungan dapat terhubung langsung dengan manfaat ekonomi bagi individu. Menjadi sebuah kehormatan bagi FORSEPSI, tidak hanya dipercaya sebagai narasumber, tetapi juga dilibatkan dalam penyusunan grand design sistem pengelolaan sampah di kompleks ASN IKN berbasis tabungan emas. Keterlibatan ini menunjukkan pengakuan terhadap pengalaman FORSEPSI dalam mendampingi bank sampah di berbagai wilayah Indonesia, dari kota besar hingga pulau-pulau kecil. Grand design ini diharapkan mampu membangun sistem yang terintegrasi: menghubungkan rumah tangga ASN, bank sampah, offtaker, dan mekanisme insentif yang berkelanjutan. Bukan sekadar mengelola sampah, tetapi membangun ekosistem ekonomi sirkular yang berpihak pada pelaku di lapangan. Kolaborasi antara OIKN, FORSEPSI, dan mitra strategis lainnya menjadi sinyal penting bahwa pengelolaan sampah di IKN tidak diletakkan sebagai urusan pinggiran. Ia diposisikan sebagai bagian dari desain kota masa depan: terintegrasi, berkelanjutan, dan berdampak nyata. Bagi FORSEPSI, keterlibatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa gerakan bank sampah---yang tumbuh dari masyarakat---memiliki peran strategis dalam kebijakan nasional. Dari edukasi di tingkat warga hingga kontribusi dalam perencanaan kota, bank sampah bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari solusi sistemik pengelolaan lingkungan di Indonesia.