25 February 2025

HPSN - Refleksi Tragedi Longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwi Gajah Cimahi

Pengelolaan sampah telah menjadi isu global dan nasional yang masih menjadi permasalahan dan masih terus dilakukan upaya untuk mengatasinya. Salah satunya tragedi longsornya tempat pembuangan akhir leuwi gajah Cimahi tahun 2005, bencana terbedar kedua di dunia yang terdiri dari pengelolaan tempat pembuangan akhir dan menjadi "Bandung Lautan Sampah" 

Hari peduli sampah nasional diperingati pada tanggal 21 Februari 2005. Pentingnya mengingat pengolahan sampah yang baik maka di peringatinya tragedi longsor tempat pembuangn akhir (TPA) Leuwigajah Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 sekitar pukul 02:00 WIB, Akibatnya 157 orang tewas dan banyak lainnya luka-luka serta kehilangan tempat tinggal. 

Penyebab terjadinya tragedi ini disebabkan beberapa faktor yaitu:

  • Pengelolaan Sampah yang Buruk: TPA Leuwigajah menerapkan sistem open dumping, dimana sampah hanya dibuang dna ditumpuk begitu saja tanpa pengelolaan yang memadai
  • Curah Hujan Tinggi: Hujan deras yang terus menerus memicu longsoran sampah yang sudah tidak stabil
  • Kurangnya Kesadaran Masyarakat: Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang benar juga menjadi faktor penyebab tragedi ini. 

Kata sampah tidak jauh dengan kesan kotor ataupun jorok dan bau. Dengan inilah sifat masyarakat yang tidak tertarik dengan pemanfaatan sampah mejadi benda bernilai ekonomi. Peristiwa tragis ini menjadi titik balik bagi pemerintah dan masyarakat dalam memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Sejak saat itu, HPSN telah digunakan sebagai motor penggerak dalam meningkatkan kesadaran dan mempromosikan gaya hidup yang lebih ramah lingkugan. HPSN diperingati dengan berbagai kegiatan seperti kampanye pengurangan sampah plastik. Operasi pembersihan lingkungan dan seminar tentang ekonomi sirkular Pemerintah bersama masyarakat dan industri, berupaya mencari solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan sampah yang semakin meningkat. Salah satu gerakan pemanfaatan sampah yaitu zero waste lifestyle yang dimulai dari yang kecil seperti memanfaatkan teknologi daur ulang sampah ataupun memiliki produk tanpa kemasam, "Zero waste adalah pilihan, bukan tres sesaat"

Hari Peduli Sampah Nasional adalah saat yang penting bagi kita semua untuk merefleksikan dampak sampah terhadap lingkungan dan kehidupan. Tragedi Leuwigajah mengingatkan kita akan hal itu tanpa pengelolaan yang baik sampah bisa menjadi ancaman serius. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif masyarakat, pemerintah, dan industri untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.


Kegiatan Lainnya

FORSEPSI juga mengadakan berbagai kegiatan tambahan yang inovatif dan partisipatif.

Data yang Tercatat, Dampak yang Terlihat: FORSEPSI Gelar Penyegaran Aplikasi Pegadaian Peduli

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan tata kelola dan pencatatan kegiatan bank sampah binaan PT Pegadaian, FORSEPSI menyelenggarakan webinar "Ngobrol Pintar Soal Sampah Bareng FORSEPSI" Edisi #9 dengan tema Sosialisasi dan Penyegaran Aplikasi Pegadaian Peduli. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kembali kepada pengurus bank sampah mengenai fungsi, manfaat, dan tata cara penggunaan aplikasi Pegadaian Peduli sebagai sarana pencatatan transaksi sampah yang lebih tertib, transparan, dan terdokumentasi dengan baik. Selain menjadi media penyegaran bagi pengguna lama, kegiatan ini juga menjadi ruang pengenalan bagi bank sampah anggota baru yang belum familiar dengan aplikasi tersebut. Dalam pemaparannya, Rahmad Nur Mustaqim menjelaskan bahwa Aplikasi Pegadaian Peduli merupakan platform yang dikembangkan oleh PT Pegadaian untuk mendukung pengelolaan data bank sampah secara digital. Aplikasi ini dirancang untuk membantu pengelola bank sampah dalam melakukan pencatatan transaksi sampah yang disetorkan oleh nasabah, baik yang dikonversikan menjadi tabungan emas maupun tabungan uang. Melalui sistem pencatatan yang terintegrasi, data aktivitas bank sampah dapat terdokumentasi dengan lebih baik sehingga memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kontribusi bank sampah binaan Pegadaian dalam mendukung pengurangan sampah dan pengembangan ekonomi sirkular. Narasumber menjelaskan bahwa keberadaan data yang valid menjadi sangat penting, tidak hanya bagi bank sampah itu sendiri tetapi juga bagi PT Pegadaian sebagai mitra pembina. Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui jumlah sampah yang berhasil dihimpun, jumlah transaksi yang terjadi, serta perkembangan konversi sampah menjadi tabungan emas yang selama ini menjadi salah satu ciri khas program bank sampah binaan Pegadaian. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai berbagai fitur yang tersedia dalam aplikasi Pegadaian Peduli. Salah satu keunggulan aplikasi ini adalah dapat digunakan tidak hanya oleh pengelola bank sampah, tetapi juga oleh nasabah. Dengan demikian, nasabah dapat memantau perkembangan tabungan mereka secara mandiri dan memperoleh informasi yang lebih transparan mengenai transaksi yang telah dilakukan. Aplikasi ini juga dirancang mengikuti kondisi nyata yang dihadapi bank sampah di berbagai daerah. Jenis-jenis sampah yang umum dikelola oleh bank sampah telah tersedia dalam sistem pencatatan.

Membangun Kemitraan Bank Sampah yang Berdampak dan Berkelanjutan: Pembelajaran dari Praktisi

Transformasi bank sampah menuju lembaga pengelola sampah yang profesional tidak dapat dilepaskan dari kemampuan membangun kemitraan yang kuat dan berkelanjutan. Hal ini menjadi benang merah dalam kegiatan Ngobrol Pintar Soal Sampah Bareng FORSEPSI yang diselenggarakan pada 25 April 2026 oleh Bidang Pelatihan FORSEPSI. Kegiatan ini menghadirkan Yudha Tryanto dari Jambi dan Rian Hidayat dari Jawa Barat yang telah lebih dahulu mengembangkan model kemitraan dengan beragam pihak, mulai dari pemerintah daerah, institusi pendidikan, sektor swasta, hingga fasilitas layanan publik. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa pengelolaan bank sampah saat ini tidak lagi cukup diposisikan sebagai kegiatan berbasis komunitas semata, melainkan perlu diarahkan menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Salah satu poin penting yang mengemuka adalah perlunya pemahaman yang utuh terhadap peran bank sampah sebagaimana diatur dalam kebijakan nasional. Bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah terpilah, tetapi juga sebagai sarana edukasi, perubahan perilaku masyarakat, serta implementasi ekonomi sirkular. Dengan demikian, bank sampah memiliki legitimasi untuk menjalin kemitraan lintas sektor dalam rangka memperluas dampak pengelolaan sampah. Dalam praktiknya, keberhasilan membangun kemitraan tidak selalu ditentukan oleh ketersediaan fasilitas fisik. Justru, kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci yang menentukan. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa banyak inisiatif bank sampah tidak berkembang optimal karena belum didukung oleh tim yang solid, pembagian peran yang jelas, serta komitmen pelayanan yang konsisten. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pengelola menjadi fondasi utama sebelum memperluas kerja sama. Kemitraan yang efektif umumnya diawali dari relasi yang terbangun secara bertahap. Bank sampah dapat memulai dari lingkungan terdekat, seperti sekolah, kelompok masyarakat, pelaku usaha lokal, hingga fasilitas kesehatan. Dalam konteks yang lebih luas, peluang kerja sama juga terbuka dengan dinas terkait, program sosial, serta sektor swasta yang memiliki tanggung jawab terhadap pengelolaan sampah yang dihasilkannya. Dalam hal ini, prinsip bahwa penghasil sampah turut bertanggung jawab terhadap biaya pengelolaannya menjadi bagian penting dalam membangun model kemitraan yang adil dan berkelanjutan. Diskusi juga menekankan pentingnya kesiapan internal sebelum menjalin kerja sama. Aspek seperti kapasitas penampungan, kemampuan operasional tim, pemahaman terhadap kebutuhan mitra, serta perhitungan biaya yang transparan perlu diperhatikan secara cermat. Selain itu, penerapan standar operasional prosedur, sistem pencatatan, dokumentasi kegiatan, serta kesepakatan kerja sama yang jelas menjadi elemen penting dalam meningkatkan profesionalitas bank sampah. Pembelajaran dari para narasumber menunjukkan bahwa pengembangan bank sampah tidak harus dimulai dalam skala besar. Pendekatan bertahap dengan mengedepankan konsistensi layanan justru menjadi kunci dalam membangun kepercayaan mitra. Dalam jangka panjang, kepercayaan inilah yang akan membuka peluang kerja sama yang lebih luas dan berdampak. Melalui kegiatan ini, FORSEPSI kembali menegaskan perannya sebagai ruang kolaborasi dan pembelajaran bagi pengelola bank sampah di seluruh Indonesia. FORSEPSI tidak hanya menjadi wadah berbagi pengalaman, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung antarpraktik baik yang berkembang di berbagai daerah. Dengan memperkuat jejaring dan mendorong pertukaran pengetahuan, FORSEPSI berkontribusi dalam mempercepat transformasi bank sampah menuju sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi. Pada akhirnya, penguatan kemitraan menjadi salah satu kunci utama dalam mendorong keberlanjutan pengelolaan sampah. Bank sampah yang mampu membangun relasi, menjaga kepercayaan, dan menghadirkan layanan yang konsisten akan memiliki posisi strategis dalam ekosistem pengelolaan sampah di tingkat lokal maupun nasional.

Silaturahmi yang Menguatkan: Belajar Kolaborasi Pengelolaan Sampah bersama FORSEPSI dan Pegadaian

Silaturahmi selalu punya cara sederhana namun kuat untuk menyatukan energi. Itulah yang terasa dalam kegiatan Halalbihalal & Silaturahmi FORSEPSI bersama PT Pegadaian yang diselenggarakan pada Sabtu, 28 Maret 2026 secara daring. Sebanyak 127 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam ruang virtual yang hangat. Bukan sekadar temu kangen pasca-Ramadhan, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kolaborasi antara bank sampah dan Pegadaian sebagai mitra strategis. Silaturahmi yang Tidak Sekadar Seremonial Dalam sambutannya, Bapak Jainudin selaku Kepala Divisi ESG PT Pegadaian menegaskan bahwa hubungan antara Pegadaian dan FORSEPSI bukan sekadar hubungan program, tetapi kemitraan yang harus terus dirawat. Hubungan harmonis antara bank sampah dengan Pegadaian Cabang menjadi kunci keberhasilan di lapangan. Di beberapa daerah, kolaborasi ini sudah berjalan sangat baik—ditandai dengan dukungan nyata dari cabang Pegadaian, mulai dari fasilitasi kegiatan, komunikasi yang intens, hingga kehadiran langsung dalam kegiatan edukasi masyarakat. Namun di sisi lain, diskusi juga secara jujur mengangkat bahwa masih ada wilayah yang perlu memperkuat komunikasi dan membangun kepercayaan dengan cabang Pegadaian setempat. Di sinilah pentingnya peran pengurus bank sampah untuk aktif menjalin hubungan, bukan hanya menunggu. Dukungan Nyata: Dari Tenda hingga Kolaborasi Program Menariknya, dalam sesi diskusi terungkap berbagai bentuk dukungan konkret yang selama ini sudah diberikan. Mulai dari bantuan sederhana seperti peminjaman tenda untuk kegiatan edukasi, hingga peluang kolaborasi dengan pihak lain seperti dukungan kegiatan bersama mitra perusahaan. Hal-hal kecil seperti ini seringkali menjadi “bahan bakar” penting bagi gerakan di akar rumput. Karena bagi pegiat bank sampah, dukungan operasional sekecil apapun bisa berdampak besar terhadap keberlanjutan kegiatan. Diskusi juga menyinggung peluang kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan brand atau perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Ini membuka ruang bahwa bank sampah tidak hanya bergerak sendiri, tetapi bisa menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas. Penguatan Legalitas dan Kelembagaan Isu lain yang juga cukup banyak dibahas adalah terkait legalitas dan kelembagaan, termasuk pentingnya Surat Keputusan (SK) sebagai dasar pengakuan formal. Legalitas ini bukan hanya soal administrasi, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk: menjalin kerja sama resmi, mengakses dukungan program, hingga membuka peluang pembiayaan. Bank sampah yang memiliki struktur dan legalitas yang jelas akan lebih mudah dipercaya, baik oleh pemerintah, mitra, maupun sektor swasta. Menjaga Semangat di Tengah Tantangan Dalam suasana yang santai namun bermakna, para peserta juga saling berbagi tantangan yang dihadapi di lapangan. Mulai dari dinamika pengurus, keterbatasan fasilitas, hingga tantangan menjaga konsistensi nasabah. Namun satu hal yang terasa kuat: semangat untuk terus bergerak tidak pernah padam. Silaturahmi ini justru menjadi pengingat bahwa setiap bank sampah tidak berjalan sendiri. Ada jaringan besar yang saling mendukung, saling belajar, dan saling menguatkan. Menutup dengan Harapan Bersama Kegiatan ini ditutup dengan pesan sederhana namun kuat: bahwa kolaborasi adalah kunci. Pengelolaan sampah bukan pekerjaan satu pihak. Ia membutuhkan kerja bersama—antara masyarakat, komunitas, pemerintah, dan sektor swasta. FORSEPSI dan Pegadaian telah menunjukkan bahwa kolaborasi itu nyata dan terus bertumbuh. Dari ruang Zoom sederhana, lahir energi besar untuk terus bergerak. Karena pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan hanya tentang sampah—tetapi tentang masa depan lingkungan, ekonomi, dan kehidupan kita bersama.   Bidang Publikasi & Komunikasi FORSEPSI