Rekruitmen Bank Sampah

Rekrutmen Bersama Bank Sampah Binaan PT Pegadaian

Gerakan kampanye sadar lingkungan dan peningkatan kesadaran atas pengelolaan sampah melalui instrumen bank sampah.

Daftar Bank Sampah Binaan

Kegiatan Kami

Kami dengan bangga mengumumkan kegiatan terbaru dari program "MengEMASkan Sampah Untuk Indonesia"!

PT Pegadaian Gelar Konsolidasi dan Pengukuhan Pengurus Bank Sampah se-DKI Jakarta untuk Perkuat Ekosistem Pengelolaan Sampah

PT Pegadaian bersama Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (Forsepsi) mengadakan kegiatan konsolidasi Bank Sampah Kanwil VIII dan IX DKI Jakarta yang dirangkaikan dengan pengukuhan pengurus bank sampah se-DKI Jakarta. Acara yang berlangsung di sebuah hotel di Jalan Kramat Raya, Kamis (7/8), menjadi momentum penting dalam memperkuat ekosistem pengelolaan sampah berbasis komunitas. Deputy Operasional PT Pegadaian Kanwil IX Jakarta II, Indra Firmansyah, menegaskan bahwa program Sampah Menjadi Emas merupakan inovasi yang tidak hanya berkontribusi pada kelestarian lingkungan, tetapi juga menghadirkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. “Pada dasarnya tidak ada yang tidak bermanfaat, hanya saja kita sering malas memilah. Semoga konsolidasi dan pengukuhan ini menjadi awal kedisiplinan warga Jakarta untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan,” ujarnya. Pengukuhan pengurus Forsepsi yang baru diharapkan mampu memperkuat peran bank sampah di seluruh wilayah DKI Jakarta. Forum ini juga menjadi wadah kolaborasi bagi para pegiat lingkungan untuk berbagi pengalaman dan menghadirkan solusi inovatif dalam pengelolaan sampah. Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat, Arifin, yang turut hadir, menyampaikan apresiasi kepada Pegadaian atas komitmennya membina bank sampah. Ia menambahkan, hingga kini sudah terbentuk 387 RW bank sampah di Jakarta Pusat, dan pembentukan terus digalakkan hingga sekolah dan perkantoran. Melalui konsolidasi dan pengukuhan ini, Pegadaian bersama Forsepsi, pemerintah daerah, dan masyarakat semakin memperkuat sinergi dalam gerakan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Langkah ini diharapkan mampu mendorong Jakarta menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berdaya.

Pegadaian Kanwil VII Bali Nusra Gelar Konsolidasi Bank Sampah 2025 di Mataram

PT Pegadaian Kantor Wilayah (Kanwil) VII Bali Nusra kembali menunjukkan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan dengan menyelenggarakan Konsolidasi Bank Sampah Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada 16–17 Juli 2025 di Hotel Santika Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan menjadi momentum penting untuk memperkuat peran bank sampah binaan dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah berkelanjutan. Acara secara resmi dibuka oleh Muhammad Efendi, selaku perwakilan Kanwil VII Bali Nusra. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. “Bank sampah bukan sekadar solusi lingkungan, tapi juga instrumen pemberdayaan masyarakat. Kami ingin memastikan seluruh bank sampah binaan Pegadaian bergerak selaras, terstruktur, dan berdampak luas,” ungkapnya di hadapan peserta. Lebih dari 60 peserta hadir dalam kegiatan ini, yang terdiri dari perwakilan bank sampah binaan Pegadaian dari wilayah Bali dan Nusa Tenggara, Tim ESG dan TJSL Pegadaian, pimpinan cabang Pegadaian Bali Nusra, hingga Tim PPLH Bali Nusra. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen bersama untuk menjadikan pengelolaan sampah sebagai gerakan kolektif, bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Dengan mengusung tema “Bersatu Kelola Sampah, Wujudkan Indonesia Bersih dan Berdaya”, konsolidasi ini menghadirkan rangkaian kegiatan yang variatif, mulai dari pengenalan program ESG, pembahasan isu-isu aktual dalam pengelolaan bank sampah, forum diskusi, hingga sesi berbagi pengalaman antarbank sampah binaan Pegadaian. Melalui forum ini, peserta tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga memperkaya strategi pengelolaan yang bisa diterapkan sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing. Program ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi nyata Pegadaian terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada sektor pengelolaan lingkungan, penguatan ekonomi sirkular, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, bank sampah diharapkan mampu menjadi pusat edukasi, inovasi, sekaligus pemberdayaan masyarakat di tingkat lokal. Sebagai perusahaan yang mengusung prinsip “The Gade Clean and Green”, Pegadaian menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukanlah sekadar agenda seremonial atau program tahunan. Lebih dari itu, kepedulian ini sudah menjadi bagian dari budaya perusahaan yang perlu dijaga, dikembangkan, dan diwariskan ke generasi berikutnya. Konsolidasi Bank Sampah 2025 di Bali Nusra ini diharapkan tidak hanya memperkuat jejaring antarbank sampah, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk melahirkan inovasi-inovasi baru. Dengan begitu, pengelolaan sampah bisa membawa manfaat nyata, bukan hanya bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan

Pegadaian Kanwil XI Semarang Perkuat Gerakan MengEmaskan Sampah Indonesia

PT Pegadaian Kantor Wilayah (Kanwil) XI Semarang menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui program MengEmaskan Sampah Indonesia. Wujudnya, Pegadaian menggelar Konsolidasi Bank Sampah Binaan secara luring di Aula Kanwil XI Semarang pada 23–24 Juli 2025. Kegiatan ini diikuti oleh bank sampah binaan dari enam area, yaitu Semarang, Pati, Surakarta, Yogyakarta, Tegal, dan Purwokerto. Salah satu agenda penting dalam konsolidasi adalah pembentukan perwakilan Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (Forsepsi) tingkat kabupaten/kota. Forum ini diharapkan menjadi wadah strategis dalam memperkuat ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Pimpinan Pegadaian Kanwil XI Semarang, Edy Purwanto, menekankan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkup terkecil. “Permasalahan sampah itu banyak sekali, maka Pegadaian mengemasnya menjadi gerakan Memilah Sampah Menabung Emas (MSME). Sekarang, membuang sampah sama saja dengan membuang emas,” ujarnya. Edy menjelaskan, Forsepsi menjadi wadah bagi penggiat lingkungan dan bank sampah binaan Pegadaian untuk melakukan konsolidasi, diskusi, hingga merumuskan solusi konkret. Melalui forum ini, masyarakat diajak untuk mengolah sampah sejak dari rumah tangga hingga tingkat kelurahan. Menurutnya, ada banyak peluang inovasi yang bisa lahir, seperti mengolah sampah menjadi energi listrik, plastik menjadi bahan bakar, budidaya maggot, hingga produk kerajinan. “Kalau sampah dipilah dan dikelola dengan baik, hasilnya bisa memberi nilai ekonomi. Sampah dijual, uangnya bisa ditabung menjadi emas,” jelasnya. Mekanisme program MengEmaskan Sampah di bank sampah binaan Pegadaian pun sederhana. Masyarakat cukup memilah sampah bernilai ekonomis, menyerahkannya ke bank sampah, lalu ditimbang dan diganti dengan uang. Selanjutnya, uang tersebut dapat langsung dikonversi menjadi Tabungan Emas Pegadaian. “Kalau menabung uang, lama-lama habis. Tapi emas bisa jadi tabungan jangka panjang,” imbuh Edy. Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Arwita Mawardi, mengapresiasi peran Pegadaian yang turut membangun Forsepsi dan membina bank sampah. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa berjalan parsial, melainkan harus melibatkan banyak pihak, termasuk swasta. “PT Pegadaian mewakili swasta dalam pengelolaan sampah di tingkat hulu. Hal ini sangat membantu pemerintah, apalagi timbulan sampah di Semarang mencapai 1.200 ton per hari,” kata Arwita. Ia menambahkan, tanpa kolaborasi, sulit mencapai target zero waste di Ibu Kota Jawa Tengah. Apalagi kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah hampir penuh. “Jika tidak ada upaya pengolahan, TPA bisa overload dalam waktu kurang dari lima tahun. Karena itu, proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) terus dikejar, dan ditargetkan dapat beroperasi pada 2028,” pungkasnya.

Pegadaian Kanwil IV Balikpapan Dorong Digitalisasi Bank Sampah untuk Perluas Dampak

PT Pegadaian Kantor Wilayah (Kanwil) IV Balikpapan, yang membawahi seluruh wilayah Kalimantan, terus mendorong bank sampah binaannya agar semakin adaptif dengan perkembangan zaman. Melalui Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (Forsepsi), Pegadaian mengajak bank sampah untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana edukasi sekaligus memperkuat peran mereka dalam mengelola sampah. Deputi Operasional Pegadaian Kanwil IV Balikpapan, Ramdiyah, menegaskan bahwa digitalisasi menjadi langkah penting untuk memperluas jangkauan bank sampah. “Dengan digitalisasi, semakin banyak masyarakat yang tahu peran penting bank sampah, termasuk program Pegadaian dalam meng-Emaskan sampah melalui Tabungan Emas,” ujarnya saat membuka Konsolidasi Bank Sampah Binaan di Aula Pegadaian Kanwil IV, Jalan Jenderal Sudirman, Balikpapan Selatan, Kamis (14/8/2025). Menurutnya, promosi melalui media sosial dan situs web akan membuat pesan edukasi dan layanan bank sampah lebih mudah menjangkau masyarakat luas. Harapannya, jaringan bank sampah binaan Pegadaian dapat berkembang menjadi lebih luas, modern, dan berdampak besar bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat. Program Meng-Emaskan Sampah yang diintegrasikan dengan Tabungan Emas menjadi salah satu wujud nyata komitmen Pegadaian. Mekanismenya sederhana: masyarakat memilah sampah dari rumah, lalu menjualnya ke bank sampah binaan Pegadaian. Nilai penjualan tersebut kemudian dapat langsung dikonversi ke rekening Tabungan Emas. “Program ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjadi langkah nyata menjaga kelestarian lingkungan,” jelas Ramdiyah. Ia menambahkan, pengelolaan sampah memang bukan persoalan mudah. Sampah yang tidak ditangani dengan benar bisa menimbulkan kerusakan lingkungan. Namun, jika dikelola dengan baik dan dikonversi menjadi Tabungan Emas, manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Kegiatan konsolidasi ini diikuti pengurus bank sampah binaan Pegadaian dari seluruh Kalimantan. Wakil Ketua Forsepsi, Syaifudin Zuhri, yang turut hadir, menekankan bahwa masalah sampah adalah tanggung jawab bersama. “Program meng-Emaskan sampah membuktikan bahwa sampah bisa disulap menjadi sumber daya. Di Surabaya saja, bank sampah binaan Pegadaian hingga kini telah berhasil menghimpun total 1 kilogram emas dari hasil penjualan sampah yang ditabung nasabah,” ungkapnya. Ia optimistis bank sampah binaan Pegadaian di daerah lain juga mampu mencetak capaian serupa, bahkan lebih besar, jika terus mendapat dukungan dan beradaptasi dengan perkembangan digital.

Pegadaian Kanwil I Medan Dorong Penguatan Bank Sampah Bersama Pemerintah dan Pegiat Lingkungan

PT Pegadaian Kantor Wilayah (Kanwil) I Medan bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sumatera Utara, Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, serta Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (FORSEPSI) menggelar kegiatan konsolidasi Bank Sampah. Pertemuan ini dihadiri pimpinan cabang dan manajer bisnis Pegadaian, dengan tujuan memperkuat pemahaman tentang pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus menguatkan sinergi lintas pihak dalam menjaga kelestarian lingkungan. Deputi Operasional PT Pegadaian Kanwil I Medan, Basuki Tri Andayani, menyampaikan bahwa sampah tidak semata-mata dipandang sebagai kotoran, melainkan memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan tepat. “Sampah yang awalnya dianggap tidak berguna, sebenarnya bisa diubah menjadi barang bernilai jual. Dampaknya bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat. Apalagi plastik yang sulit terurai, harus diolah agar tidak merusak alam,” ujarnya. Basuki menambahkan, momentum konsolidasi ini bertepatan dengan penilaian Adipura di sejumlah daerah sehingga diharapkan mampu menjadi ruang berbagi informasi, memperkaya pengalaman, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam tata kelola sampah yang lebih baik. Menurutnya, Pegadaian sebagai institusi keuangan tidak hanya fokus pada pencapaian bisnis, tetapi juga ingin memberikan edukasi melalui program “Memilah Sampah Menjadi Emas” agar masyarakat peduli lingkungan sekaligus meningkatkan taraf hidup keluarga. Ketua FORSEPSI, Mina Dewi Sukmawati, menilai kegiatan ini menjadi semangat baru untuk pemerataan perkembangan bank sampah. Menurutnya, ada daerah yang sudah mendapat dukungan penuh dari pemerintah, sementara sebagian lainnya masih tertinggal. “Konsolidasi ini menjadi langkah mencari solusi bersama agar bank sampah bisa berjalan optimal. Selain mendorong terbentuknya bank sampah baru, FORSEPSI bersama Pegadaian juga melakukan monitoring terhadap bank sampah binaan yang sudah ada,” jelas Mina. Sekretaris DLHK Sumut, Ahmad Arif Harahap, turut mengapresiasi langkah Pegadaian dalam memfasilitasi kegiatan ini. Ia menegaskan pihaknya akan terus mendukung para pegiat lingkungan melalui program dan forum yang lebih luas, salah satunya Sarasehan Bank Sampah yang diinisiasi Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution. Ia juga memperkenalkan program Sajadah (Sampah Jadi Berkah), sebuah inisiatif DLHK yang mendorong pengelolaan sampah organik melalui pemilahan hingga budidaya maggot. Melalui konsolidasi rutin tahunan ini, Pegadaian bersama mitra strategis berharap bank sampah semakin kuat, masyarakat lebih teredukasi, dan lingkungan tetap lestari.

Pegadaian Kanwil X Gelar Konsolidasi Wilayah Bank Sampah di Kota Bandung

Bandung, 15–16 Juli 2025 – PT Pegadaian Kanwil X Jawa Barat bersama Pemerintah Kota Bandung dan Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (FORSEPSI) menggelar Konsolidasi Wilayah Bank Sampah. Acara ini menjadi wadah strategis untuk menyatukan visi, membahas capaian, mengidentifikasi kendala, serta merumuskan rencana kerja bank sampah ke depan. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini melibatkan 51 bank sampah binaan Pegadaian, perwakilan Pemerintah Kota Bandung, Dinas Lingkungan Hidup, serta pengurus dan anggota FORSEPSI. Hari pertama konsolidasi diselenggarakan di Gedung Pendopo Wali Kota Bandung, sedangkan hari kedua dilanjutkan di Aula Langen Palikrama PT Pegadaian Kanwil X Bandung. Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah penandatanganan komitmen antara Pemerintah Kota Bandung, PT Pegadaian, dan FORSEPSI terkait penerapan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2021 tentang pengelolaan sampah melalui bank sampah. Komitmen ini diharapkan memperkuat sistem pengelolaan bank sampah, menyamakan persepsi antar pengurus, serta mendorong kolaborasi antarunit bank sampah, khususnya di lingkungan ASN. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Darto Ap., MM, Pemimpin Wilayah X Jawa Barat PT Pegadaian, Dede Kurniawan, serta Ketua Umum FORSEPSI Pusat, Mina Dewi. “Penandatanganan komitmen ini menegaskan dukungan dan kepatuhan terhadap regulasi pengelolaan sampah nasional. Kami berupaya memperkuat tata kelola internal bank sampah sekaligus membangun kolaborasi yang lebih erat antarunit, khususnya di lingkungan ASN,” ujar Darto Ap., MM. Sementara itu, Mina Dewi menekankan pentingnya sinergi melalui diskusi, presentasi capaian, identifikasi kendala, dan perumusan rencana kerja bersama. “Diharapkan dengan konsolidasi ini kita semua lebih peduli terhadap sampah agar tercipta lingkungan yang bersih dan sehat,” ungkapnya. Dalam kesempatan yang sama, Dede Kurniawan menegaskan bahwa bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengelolaan, tetapi juga agen perubahan sosial. “Bank sampah dapat membantu mengurangi sampah di lingkungan rumah, kantor, dan sekitarnya. Program ini sangat baik karena mengubah sampah menjadi emas,” jelasnya, merujuk pada komitmen Pegadaian mendukung ekonomi sirkular dan kesejahteraan masyarakat. Melalui konsolidasi ini, Pegadaian bersama Pemerintah Kota Bandung dan FORSEPSI menegaskan tekadnya untuk melangkah maju menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang mandiri, berdaya, dan berkelanjutan. Dengan semangat kolaborasi, seluruh pihak berharap Kota Bandung dapat menjadi contoh kota hijau, di mana setiap sampah memiliki potensi untuk diubah menjadi nilai yang bermanfaat.

Pegadaian Wilayah III Sumbagsel Gelar Konsolidasi Wilayah Forsepsi Bank Sampah Binaan Pegadaian di Palembang

Palembang, 2 Juli 2025 – PT Pegadaian terus memperkuat komitmennya dalam mendukung gerakan ramah lingkungan melalui program unggulan Memilah Sampah Menabung Emas (MSME). Program ini mengajak masyarakat menabung emas dari hasil memilah sampah anorganik bernilai ekonomis seperti plastik, kertas, logam, dan lainnya. Sejak diluncurkan pada 2018, program MSME telah menjadi bagian dari upaya nyata Pegadaian dalam mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tahun ini, konsolidasi MSME difokuskan di Kota Palembang dan berlangsung selama dua hari, 2–3 Juli 2025. Kegiatan yang didukung melalui sinergi antara Pegadaian Kanwil III Sumbagsel, Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (FORSEPSI), serta bank sampah binaan ini melibatkan 17 bank sampah dari lima provinsi: Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, dan Bengkulu. Acara dibuka oleh Pemimpin Wilayah III Sumbagsel, Novryandi, yang menegaskan bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Ia menekankan Pegadaian tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada kepedulian sosial. “Di usia ke-124 tahun ini, Pegadaian terus berupaya memberikan edukasi melalui bank sampah binaan, sejalan dengan misi kami mendukung program pemerintah di wilayah Sumatera Bagian Selatan,” ujar Novryandi. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengelolaan Sampah, B3, dan Limbah B3 DLH Sumsel, Idrus Salam, mengapresiasi kontribusi Pegadaian dalam mendukung pengelolaan sampah. Ia menjelaskan bahwa Kota Palembang menghasilkan 1.200 ton sampah per hari, sementara kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya mampu menampung sekitar 900 ton. “Kelebihan sampah ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Saat ini Pemkot Palembang tengah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kecamatan Keramasan bersama Kemenko Marves,” ungkap Idrus. Dalam konsolidasi ini, Sekretaris Umum FORSEPSI, Aprilia, menyatakan komitmennya untuk terus melanjutkan edukasi pengelolaan sampah dari sumbernya secara masif dan berkelanjutan. Ia menyebut bahwa pada hari pertama konsolidasi, para peserta telah membahas strategi penting terkait kelancaran program GLAM (Green Life Action Movement) serta pemantauan biopori sebagai solusi pengolahan sampah organik. Melalui kegiatan konsolidasi MSME di Palembang, Pegadaian bersama FORSEPSI dan pemerintah daerah menunjukkan sinergi yang kuat dalam membangun kesadaran, meningkatkan literasi, dan mendorong aksi nyata pengelolaan sampah. Program ini diharapkan mampu mendorong lahirnya ekosistem ekonomi sirkular di wilayah Sumatera Bagian Selatan, sekaligus memperkuat gerakan masyarakat menuju lingkungan yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan.

Pegadaian Dukung Pemkot Bima dan FORSEPSI Gelar Aksi Lingkungan dalam HPSN 2025

Bima, 26 Februari 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, PT Pegadaian mendukung Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (FORSEPSI), bank sampah binaan PT Pegadaian, untuk bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima, menggelar kegiatan Gerakan Biopori Nasional dan Aksi Bersih Sungai. Acara turut hadiri Rudy Kristijanto, Kepala Departemen Area Pulau Sumbawa PT Pegadaian, beserta jajaran pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dan para relawan. Peringatan HPSN 2025 di Kota Bima menghadirkan solusi konkret dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Salah satu program utama dalam kegiatan ini adalah pemasangan perangkap sampah (trash barrier) di Sungai Lewi Jambu, yang diharapkan mampu menahan hingga 2 ton sampah plastik per bulan, sehingga dapat mencegah pencemaran laut. Selain itu, acara ini juga menandai peluncuran Program Organik Nasional, yang ditandai dengan pembuatan 1.000 lubang biopori di seluruh Kantor Cabang PT Pegadaian se-Indonesia. Lubang biopori ini bertujuan untuk mengurangi genangan air, meningkatkan daya serap tanah, serta mengelola sampah organik secara lebih ramah lingkungan. Acara dibuka secara resmi oleh Asisten 1 Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Bima, Drs. H. Alwi Yasin, M.Ap, yang mewakili Walikota Bima. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya partisipasi semua pihak dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan praktik pengelolaan sampah dari sumbernya. “Kolaborasi seperti ini harus terus diperluas agar memberikan dampak berkelanjutan bagi Kota Bima dan daerah lainnya,” ujar Alwi. Sebagai bentuk dukungan terhadap Permen LHK No. 14 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular, acara ini juga diisi dengan penandatanganan komitmen bersama antara PT Pegadaian, FORSEPSI, dan Pemerintah Kota Bima untuk memperkuat sinergi dalam pengelolaan sampah yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Rully Yusuf selaku Kepala Divisi ESG PT Pegadaian menyatakan harapannya, “Keberlanjutan lingkungan memerlukan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak. Melalui pendekatan Pentahelix, kami berharap sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media dapat semakin diperkuat untuk menciptakan dampak yang lebih luas dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat secara berkelanjutan,” Sebagai bagian dari komitmen dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), PT Pegadaian aktif dalam mendorong inisiatif keberlanjutan melalui berbagai program berbasis lingkungan. Salah satu bentuk nyata kontribusinya adalah pembinaan 425 bank sampah serta edukasi pemilahan sampah anorganik dan pembuatan biopori di lingkungan kantor cabang dan unit kerja Pegadaian di seluruh Indonesia. Ketua Umum FORSEPSI, Mina Dewi, mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin. “Dengan adanya kolaborasi ini, kami meluncurkan Program Organik Nasional dan Gerakan Bersih Sungai. Harapannya, melalui momentum HPSN ini, program-program FORSEPSI dapat semakin terintegrasi dengan pemerintah daerah dalam pengembangan bank sampah dan edukasi lingkungan. Kami juga berharap Kota Bima bisa menjadi role model dalam pengelolaan sampah dari sumbernya, sehingga bisa menginspirasi daerah lain di Indonesia,” ujar Mina. Melalui bank sampah PT Pegadaian menegaskan komitmennya untuk terus menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan bersih. Ke depan, program ini akan diperluas ke lebih banyak daerah dengan melibatkan berbagai mitra strategis, guna menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat dan ekosistem.   Tentang Pegadaian PT Pegadaian merupakan lembaga pembiayaan sosial yang berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat melalui layanan keuangan inklusif. Dengan berbagai inovasi layanan dan program sosial, PT Pegadaian terus berupaya menciptakan dampak positif bagi komunitas dan masyarakat secara luas.  

HPSN - Refleksi Tragedi Longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwi Gajah Cimahi

Pengelolaan sampah telah menjadi isu global dan nasional yang masih menjadi permasalahan dan masih terus dilakukan upaya untuk mengatasinya. Salah satunya tragedi longsornya tempat pembuangan akhir leuwi gajah Cimahi tahun 2005, bencana terbedar kedua di dunia yang terdiri dari pengelolaan tempat pembuangan akhir dan menjadi "Bandung Lautan Sampah"  Hari peduli sampah nasional diperingati pada tanggal 21 Februari 2005. Pentingnya mengingat pengolahan sampah yang baik maka di peringatinya tragedi longsor tempat pembuangn akhir (TPA) Leuwigajah Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 sekitar pukul 02:00 WIB, Akibatnya 157 orang tewas dan banyak lainnya luka-luka serta kehilangan tempat tinggal.  Penyebab terjadinya tragedi ini disebabkan beberapa faktor yaitu: Pengelolaan Sampah yang Buruk: TPA Leuwigajah menerapkan sistem open dumping, dimana sampah hanya dibuang dna ditumpuk begitu saja tanpa pengelolaan yang memadai Curah Hujan Tinggi: Hujan deras yang terus menerus memicu longsoran sampah yang sudah tidak stabil Kurangnya Kesadaran Masyarakat: Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang benar juga menjadi faktor penyebab tragedi ini.  Kata sampah tidak jauh dengan kesan kotor ataupun jorok dan bau. Dengan inilah sifat masyarakat yang tidak tertarik dengan pemanfaatan sampah mejadi benda bernilai ekonomi. Peristiwa tragis ini menjadi titik balik bagi pemerintah dan masyarakat dalam memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Sejak saat itu, HPSN telah digunakan sebagai motor penggerak dalam meningkatkan kesadaran dan mempromosikan gaya hidup yang lebih ramah lingkugan. HPSN diperingati dengan berbagai kegiatan seperti kampanye pengurangan sampah plastik. Operasi pembersihan lingkungan dan seminar tentang ekonomi sirkular Pemerintah bersama masyarakat dan industri, berupaya mencari solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan sampah yang semakin meningkat. Salah satu gerakan pemanfaatan sampah yaitu zero waste lifestyle yang dimulai dari yang kecil seperti memanfaatkan teknologi daur ulang sampah ataupun memiliki produk tanpa kemasam, "Zero waste adalah pilihan, bukan tres sesaat" Hari Peduli Sampah Nasional adalah saat yang penting bagi kita semua untuk merefleksikan dampak sampah terhadap lingkungan dan kehidupan. Tragedi Leuwigajah mengingatkan kita akan hal itu tanpa pengelolaan yang baik sampah bisa menjadi ancaman serius. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif masyarakat, pemerintah, dan industri untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.